Pilu, Kisah Warga Lombok: Kami Korban Pariwisata







Korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (29/7/2018). (Istimewa)

Moslemcommunity - Bertakbir sambil menangis. Ya, dalam getar suaranya, mereka memang bertakbir sambil menangis. Lepas sholat Ied, Rabu (22/8), usai Ustadz Bachtiar Nasir memberikan ceramahnya, takbir berkumandang. Ada kesenangan berbalut duka yang kental. Bersyukur para korban ini bisa bertemu dengan Iedul Adha.

Catatan seorang warga terdampak gempa, salah satu warga Lombok Utara.

Alhamdulillah. Gempa ini sejatinya membawa berkah. Mengingatkan tradisi baik. Alih-alih membela devisa pariwisata malah  justru menganggap pariwisata membawa perubahan. Ya, devisa besar, tidak mampu membeli kebahagian.

Kalau anak-anak terbiasa melihat botol miras dan ikut menenggak isinya, macam bule-bule di pinggir pantai. Orang tua mana yang akan bahagia? Melupakan sholat, melupakan pendidikan, acuh pada masa depan. Orang tua mana yang akan bahagia?

Dulu, Ada banyak tradisi baik disini. Tapi ketidaksiapan masyarakat akan skema menjamu tamu, malah menggerus kearifan lokal. Keahlian dan mental masyarakat belum siap.

“Kami, adalah korban pariwisata”, begitu lanjutnya.

Terlalu mahal harga pariwisata, walau itu berlabel syariah. Karena sejatinya ketika malam terhampar, maksiat kembali melenggang. Kemunafikan yang berjubah. Disinilah, Allah sendiri yang mengingatkan, dengan serangkaian gempa di Pulau Seribu Masjid.

Status Darurat Nasional memang sangat dibutuhkan. Akan dengan cepat mampu memulihkan keadaan, dan sebagai bukti kehadiran negara. Di sisi lain, kemandirian masyarakat khas desa Indonesia, memungkinkan pulih sendiri tanpa bantuan pemerintah. Walau tentu lebih butuh waktu. Tapi luka kali ini tentu akan sangat membekas.

Belajarlah dari negeri Tibet dan Jepang. Negeri yang sangat maju secara teknologi dan ekonomi, tapi tidak norak dalam memandang dunia. Tradisi nenek moyang mereka tetap membekas.

Saling menyapa dan menunduk untuk menghormati, memuliakan orang tua, mengucapkan terima kasih, meminta maaf tanpa disuruh dan tanpa pembuktian pengadilan, dan sederet tradisi baik lainnya. Sama seperti tradisi baik di Indonesia. Bedanya, kita lebih terpukau oleh target dunia, sementara mereka adalah dunia itu sendiri.[]

*catatan: cerita asli dengan nama sumber disamarkan

Sumber: AQLNews (Eramuslim)


Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: