Mantap! Editor Tribunnews.com: Ustadz Abdul Somad, Contoh Terbaik Dakwah di Era Digital






Mantap! Editor Tribunnews.com: Ustadz Abdul Somad, Contoh Terbaik Dakwah di Era Digital
Ustadz Abdul Somad dan Sultan Hassanal Bolkiah (Screenshoot Youtube)

Moslemcommunity.net -  Sekitar enam bulan sebelum Almarhum Almaghfurllah KH Hasyim Muzadi wafat, beliau sempat berwasiat.

"Tantangan terbesar umat Islam di masa yang akan datang adalah kemauan mentransformasi literasi keilmuan ke digital. Jika ini dilakukan, generasi penerus insya Allah akan selamat," kata beliau dalam sebuah kesempatan wawancara di kediaman beliau di Makhad Al Hikam, Depok.

Fenomena tentang Ustadz Abdul Somad hari-hari ini menjadi pembicaraan hangat hampir di semua linimasa termasuk media sosial maupun media mainstream.

Saya tidak tertarik membahas polemik ungkapan "pesek" Ustadz Abdul Somad dengan salah seorang artis yang juga sedang tenar di tanah air lewat trend informasi digital.

Kesampingkan dulu soal itu, mari kita berdiskusi soal dakwah Ustadz Abdul Somad yang sedang fenomenal dengan memanfaatkan kecanggihan trend penyebaran informasi lewat teknologi digital.

Dua bulan sebelum Ramadan lalu, saya mulai mengenal Ustadz Abdul Somad lewat ceramah-ceramah beliau di youtube dan akun facebook Aswaja serta akun Ngaji Kitab Kuning.

Awalnya saya kira ini ceramah ustadz biasa-biasa saja yang biasanya hanya sesekali iseng meng upload ceramahnya di media sosial.

Tetapi lama kelamaan saya seperti kecanduan. Kecanduan yang saya rasakan awalnya bukan karena isi dari ceramah itu tetapi karena setiap kali waktu senggang kerja siang hari dan terutama menjelang akan tidur malam hari sering muncul di timeline medsos saya tema terbaru dari ceramah Ustadz Abdul Somad.

Ini sama dengan reminder atau semacam notifikasi dari sebuah iklan produk dagangan yang biasanya akan muncul berkali-kali di medsos kita ketika kita pernah sekali saja membuka akun tersebut.

Memasuki bulan Ramadan intensitas penyebaran konten ceramah ustadz Abdul Somad makin tinggi. Uploadernya sangat cerdik dengan mempublish video-video ceramah Ustadz Abdul Somad di waktu-waktu prime time pengguna medsos, seperti saat menjelang sahur, sesudah sahur atau ketika menjelang buka puasa.

Nikmat rasanya menghabiskan waktu dengan melihat ceramah Ustadz Abdul Somad sambil menunggu waktu solat subuh atau menjelang buka puasa sebelum adzan magrib berkumandang.

Kenikmatan itu semakin terasa karena konten ceramah Ustad Abdul Somad disajikan tematik, bahasanya lugas mudah dicerna, referensinya cukup dalam, terinci, sistematis kadang ada nuansa historis, moderat, penuturnya terlihat sederhana dan yang paling banyak disukai tentu bumbu-bumbu lucunya yang makin membuat ceramah beliau berasa gurih.

Terlepas dari konten serta ciri khas ceramah Ustadz Abdul Somad tadi, lalu apa yang membuat ceramah Ustadz Abdul Somad cepat tersebar dan semakin viral saja setiap harinya?

Pemilihan media video yang lalu dishare lewat youtube dan facebook adalah pilihan yang sangat tepat. Era kekinian adalah era manusia yang sangat suka dengan visual dibandingkan teks naskah atau gambar.

Bisa dikatakan video adalah masa depan digital bahkan ekstrimnya, televisi pun kini sdh mulai terancam dengan keberadaan konten yg tayang di youtube atau media sosial lain yg ada fasilitas videonya.

Saat ini orang-orang lebih cenderung menyaksikan tayangan video lewat HP dibandingkan televisi. Alasannya sederhana, video di HP bisa difilter sesuai dg tontonan yang disukai saja dan waktu nontonnya pun bisa diatur sesuai dengan waktu luang. Ini sesuatu yg tak bisa didapatkan dari tayangan video lewat televisi.

Lalu, pilihan menampilkan ceramah Ustadz Abdul Somad dengan cara tematik juga sangat tepat. Kebiasaan generasi masa kini hanya akan mencari sesuatu di mesin google berdasarkan atas kebutuhannya saja.

Misalnya, ketika seseorang ingin tahu bagaimana cara wudhu' yang benar, maka mereka akan segera mencarinya di google. Maka yang paling populerlah yang akan banyak dianut.

Konsekwensinya popularitas di google kadang tanpa memperhitungkan keabsahan sanad atau sumber mutawatir.

Yang paling banyak di klik, maka itu akan menjadi mazhab populer dan habbit generasi masa kini tanpa berpikir panjang lagi untuk menelisik sumber mutawatir sebab mereka hanya butuh cepat faham dengan cara instan.

Tampilan durasi video ceramah Ustadz Abdul Somad yang pendek-pendek tak sampai 10 menit bahkan kadang 3 atau 5 menit saja juga punya pengaruh besar videonya banyak ditonton.

Ini sudah memperhitungkan psikologi orang nonton video lewat HP biasanya akan cepat bosan jika durasinya terlalu panjang dan lama. Video yang terlalu lama durasinya akan banyak ditinggalkan penonton.

Sebenarnya masih banyak lagi kecerdikan-kecerdikan tim digital ceramah Ustadz Abdul Somad yang seharusnya banyak ditiru oleh siapapun para ahli ilmu yang memiliki kemampuan mumpuni untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan di era digital ini.

Semakin banyak para cerdik cendikia Islam mentransformasi literasi keilmuan mereka ke digital, estafet keilmuan ke generasi yang akan datang yakinlah akan bisa tersampaikan seperti harapan Almarhum KH Hasyim Muzadi tadi.

Memang ini tidak akan mudah. Saya memahami para cerdik cendikia Islam mayoritas dihuni oleh mereka yang sudah berumur, yakni mereka yang tak terbiasa dengan media sosial atau produk-produk digital lainnya.

Dan untuk membiasakan aktif di media sosial akan menjadi sangat berat sebab mereka bukanlah generasi yang lahir di dunia lalu langsung melihat gadget. Itulah bedanya dengan kids zaman now.

Tapi inilah kenyataan, medan dakwah kita sudah sangat berubah. Cara mengatasinya mungkin sangat sederhana, Old Generation mau tak mau harus bekerjasama dengan Generasi Now!


Oleh: Husein Sanusi/Editor Tribunnews.com

[http://news.moslemcommunity.net]


Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: