Timnas Menang Lawan Thailand, Ada Apa Umat Islam Malah Di-Bully?






Foto : KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Sejak dari kemarin (15/12) saya cermati, setelah Timnas Indonesia menang 2-1 melawan Thailand dalam laga kandang final AFF, tapi koq justru umat Islam yang dibully di media sosial.

Kira-kira kurang lebih seperti ini opini yang dikembangkan untuk membully umat Islam: “Pelatih Timnas kafir dan Kapten Timnas kafir tapi bisa membawa Indonesia menang melawan Thailand”.

Orang kafir bisa membawa Indonesia maju. Begitulah kira-kira logika yang hendak dibangun disebar untuk mempengaruhi publik. Sehingga saya menafsirkan, sasarannya jelas mengarah pada konteks politik kontemporer saat ini, terutama menjelang Pilkada DKI Jakarta. Padahal, keduanya sama sekali tidak saling berhubungan apapun.

Saya sebenarnya tidak ingin memberi komentar. Walau saya punya banyak argumen dan data untuk menyatakan opini tersebut cacat sejak dalam fikiran.

Sebagai orang yang meneliti tentang Religusitas Sepak Bola dan penulis buku “Pemuja Sepak Bola” saya paham betul memang di Eropa ada klub sepak bola yang didirikan dengan sentimen agama. Namun, komentar miring secara bertubi terus mengisi ruang media sosial tersebut perlu diluruskan.

Kasihan orang awam, dirusak fikirannya oleh opini yang dikembangkan dengan logika falasi (cacat berfikir) seperti itu. Atas dasar itu saya ingin berikan pandangan begini:

Pertama, Soal istilah kafir. Sebagai kata yang digunakan untuk menyusun bahasa, kata kafir itu sejatinya independen dan otonom. Dia sama dengan kata muslim, mukmin, merah, putih, suka, benci dst. Kafir dapat diterjemahkan sesuai makna otonom yang melekat di dalamnya.

Kāfir (bahasa Arab: كافر kāfir; plural كفّار kuffār) dalam syariat Islam diartikan sesuai etimologi sebagai “orang yang menutupi kebenaran risalah Islam”. Istilah ini mengacu kepada orang yang menolak Allah SWT, atau orang yang bersembunyi atau menutup dari kebenaran akan agama Islam.

Istilah kafir merupakan istilah resmi yang digunakan dalam Al-Qur’an (misalnya lihat QS 2 : 6, 212, QS 3 : 28, 32, 54, QS 4 : 139, QS 5 : 86, dll) untuk menjelaskan terminologi sosial dari kelompok masyarakat berbasis teologis. Simpelnya begini, dalam Islam keyakinan manusia itu digolongkan pada 2 kelompok besar, MUSLIM dan KAFIR. Dua kelompok besar ini nanti bisa dibagi lagi sesuai karakteristik dan kondisi sosiologisnya.

Jadi, istilah kafir itu bagian dari bahasa Al-Qur’an. Artinya, itu ajaran atau pemahaman resmi dalam Islam. Umat Islam seharusnya jangan alergi dengan istilah kafir. Tidak perlu risih apalagi takut mempelajari dan membahas persoalan kafir.

Nah, agaknya karena penggunaan istilah kafir secara sosial terlalu keras dan tegas jadi bikin resah kelompok orang yang tidak memahaminya. Seperti garis, dia terlalu tebal untuk membedakan antara orang Muslim dan Bukan Muslim. Garis tebal ini yang bikin risau sehingga muncul tawaran menggunakan istilah Non-Muslim yang lebih lembut untuk merujuk kepada Kafir. Agaknya demikian juga halnya dengan kata “Auliya” dalam surat Al-Maidah 51, dilembutkan maknanya dari Pemimpin menjadi Teman Dekat.

Poin saya, dalam penggunaan bahasa juga ada pertarungan ideologis. Anda mau pakai istilah kafir atau non muslim, itu pilihan yang penting ada kesadaran ideologis dalam memilih kata yang hendak digunakan. Bagaimana pandangan saya terkait soal ini?

Bagi saya, istilah kafir sebaiknya digunakan untuk internal sesama muslim, sedangkan secara eksternal dapat menggunakan istilah non-muslim.

Karena ini menyangkut urusan Teologis, menurut saya istilah Muslim atau Kafir sama sekali tidak berhubungan dengan Sepak Bola, terutama di Indonesia. Karena sepak bola di Indonesia tidak dibangun sebagai identitas teologis, tetapi lebih cenderung menjadi identitas etnis, geografis atau historis. Etnis Sunda relatif mendukung Persib, sama halnya arek Surabaya mendukung Persebaya. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama.

Berbeda halnya dengan sejarah sepak bola di Inggris, Skotlandia, Italia atau Spanyol. Itu sebabnya, beberapa logo klub sepak bola di Eropa menggunakan simbol Teologis seperti salib atau Mahkota Ratu. Contohnya logo AC Milan atau Barcelona. Oleh karena itu pula, perbedaan basis identitas tersebut tidak mempengaruhi fans AC Milan atau Barcelona yang muslim di Indonesia dalam mencintai klub pujaan mereka.
Kedua, Soal karena pelatih timnas dan kapten timnas dari non muslim sehingga berhasil mengalahkan tim Thailand. Saya harus sampaikan ucapan terima kasih pada opini yang mungkin dimaksudkan untuk membully umat Islam Indonesia ini.

Sebab, pandangan dangkal ini justru membawa kita pada hakekat Bhinneka Tunggal Ika, kita berbeda tapi tetap bersatu.

Mereka pemain timnas berbeda agama, tapi mereka tidak saling menghina keyakinan saudaranya. Mereka berbeda tapi tidak saling menyakiti hati saudaranya. Mereka berbeda tapi tidak merasa berbeda karena mereka satu dalam kesatuan. Di dada mereka tersemat Garuda. Untuk diketahui, pada bagian leher dalam jersey yang mereka kenakan tertulis:“Bhinneka Tunggal Ika”.

Coba bayangkan, jika di lapangan mereka saling menghina keyakinan antar pemain, misalnya ada pemain non muslim yang berucap, “Eh, ngapain Lu selebrasi gol pakai nungging segala. Jangan mau dibohongi pakai sujud”. Saya tidak dapat bayangkan bagaimana yang terjadi di lapangan antar pemain muslim dan non muslim. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemain Timnas Indonesia lebih mengerti dengan baik arti Bhinneka Tunggal Ika.

Terkait konsep Bhinneka Tunggal Ika ini, ajaran Islam sudah memberi batas melalui ayat “Lakum Dinukum Waliyadin”, Bagimulah agamamu, Bagikulah agamaku. Singkat, padat, jelas dan lugas. Perbedaan diakui, tapi tidak boleh diadu, dipertentangkan, dibandingkan apalagi dicaci dan dihina.

Berdasarkan dua hal tersebut tentu saya berharap bagi umat muslim jangan takut dan risih dengan penggunaan istilah kafir, karena itu bahasa Al-Qur’an. Bagi saudara saya non muslim, jangan khawatir juga dengan istilah kafir sebab sahabat saya non muslim juga dapat menyebut saudara saya yang muslim dengan sebutan non Kristiani, non Buddha atau non Hindu. Sederhana bukan?

Kita tidak perlu saling curiga dan takut jika kita bisa saling memahami dan mengerti. Saling paham dan saling mengerti, seperti jembatan yang akan membawa kita pada hakekat Bhinneka Tunggal Ika. Kita memang berbeda, itu fakta.

Tapi kita terikat sumpah, bahwa kita bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu…

INDONESIA…!

Oleh DR Iswandi Syahputra
*Pengamat media dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta


sumber: postmetro


Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: