Mahasiswa UI Bikin Panas Jakarta Karena Tolak Pemimpin Kafir, Setiap Rezim Inginkan Pemuda Bungkam!







Penolakan keras sebelumnya disuarakan oleh kelompok mahasiswa yang menamakan Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Universitas Indonesia.

"Dia tidak becus untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Jakarta, harga melambung tinggi, bahkan kriminalitas di mana-mana," ujar Boby dalam video berdurasi 1 menit 37 detik yang diambil di depan Gedung Rektorat UI.


Boby juga membeberkan sejumlah dugaan kasus korupsi di mana nama Ahok pernah ikut terseret, yakni Sumber Waras, reklamasi. Selain Gema Pembebasan UI, video serupa juga dibuat sejumlah mahasiswa lain di beberapa universitas, seperti Universitas Negeri Jakarta, Politeknik Negeri Jakarta, dan Universitas Gunadarma.

Berikut videonya:


Tak ayal berita yang viral di social media inipun kemudian mendapat komentar dari gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok  mengecam aksi penolakan dirinya oleh mahasiswa Universitas Indonesia bernama Boby Febrik Sedianto. Bobi melakukan penolakan secara terbuka lewat video, menganggap Ahok sebagai pemimpin zalim yang gagal menyejahterakan warga ibu kota.

"Kalau saya, saya sudah pecat dia jadi mahasiswa karena enggak guna," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Rabu (7/09/2016).

"Setiap Rezim Inginkan Pemuda Bungkam"

Itulah kemudian judul yang ditulis oleh Iwan Januar di laman blognya. Iwan Januar adalah seorang yang pada hari minggu lalu juga mengikuti aksi Tolak Pemimpin Kafir dan berorasi di Patung Kuda Jakarta. Iwan Januar menulis hal tersebut karena melihat adik-adik mahasiswanya seperti dibungkam oleh pihak kampus. Dan berikut adalah tulisan lengkap tersebut:


‘Adik’ saya, yang kuliah di kampus UI akhirnya dipanggil pejabat kampusnya. Besar kemungkinan ia akan mendapat teguran setelah video seruan #tolakahok #tolakpemimpinkafir menjadi viral di media sosial. Beberapa pejabat di kampusnya sepertinya kepanasan dengan aksi heroik adik saya ini.

Depok jelas bukan Jakarta. sehingga ada alasan bagi institusi kampusnya untuk menegur tindakannya. Dan kampus harus netral dari kegiatan politik, maka tindakannya dianggap melanggar kebijakan kampus. Anak muda yang cerdas dan berani itu bukan saja menghadapi  para pejabat di kampusnya, tapi banyak netizen yang sudah membullynya dengan kalimat yang sarkastis.
Aksi anak muda ini dinyatakan bersalah secara administratif, tapi ada sesuatu yang menggigit dari yang ia lakukan. Aksinya mengingatkan kita bahwa selama ini dunia kampus seperti sudah mati suri dari aksi perpolitikan, apalagi yang lantang menyuarakan Islam.

Para civitas academica hari ini kelihatan sibuk dengan dunia mereka sendiri. Bak hidup di menara gading. Kuliah, mengejar prestasi akademik yang cantik, ikut mentor-mentor bisnis sebagai bekal wirausaha nanti, atau mencari untung di dunia hiburan.
Sudah lama orang tua tidak lagi melihat mahasiswa menggedor pagar gedung DPR membela rakyat kecil seperti warga Luar

Batang atau Rawa Jati yang kena gusur Ahok. Orang tua juga tidak melihat kelompok mahasiswa melawan kebijakan reklamasi pantai yang sarat kepentingan kapitalisme dan parpol. Lebih sulit lagi melihat mahasiswa muslim turun ke jalan menentang aksi Densus 88 atau revisi UU Antiterorisme. Ya! Orang tua sudah lama tidak lagi menyaksikan itu. Hatta, mahasiswa berideologi kiri juga tidak lagi terdengar meski hanya sekedar sayup-sayup.
Dimanakah mahasiswa?

Mereka banyak berkumpul di dunia hiburan. Mengantri di acara Stand Up Comedy, baik sebagai pengisi atau penikmat. Ada di acara-acara lawakan di layar kaca, ikut audisi menjadi bintang termasuk selebritis berhijab. Di sanalah orang tua sudah banyak melihat mahasiswa berada.

Julien Benda, seorang penulis dan aktivis politik Prancis, dalam bukunya Pengkhianatan Kaum Cendekiawan menuliskan bahwa para cendekiawan bisa berkhianat ketika mereka bertingkah polah seperti para rezim yang mereka kritik. Itu sudah terbukti, banyak aktivis yang kemarin-kemarin sering turun ke jalan, sekarang duduk nyaman dibangku pemerintahan dan parlemen. Menikmati fasilitas rakyat semaksimal mungkin.

Kini banyak calon intelektual yang bungkam menghadapi kezaliman rezim. Banyak mahasiswa yang tidak mau beranjak dari zona nyaman hidup mereka. Inipun sama dengan bentuk pengkhianatan.

Inilah kemunduran dunia aksi para mahasiswa. Redup dari aksi membela kebenaran, tapi ramai mencari ketenaran dan kenyamanan hidup. Dan inilah yang diidamkan setiap rezim di sepanjang zaman. Dunia yang tak akan bergejolak menghasilkan perubahan karena para calon intelektual hidup di dunia mereka masing-masing, terpisah dari persoalan keumatan.
Itu sudah nampak nyata ketika sejumlah lembaga kemahasiswaan duduk bareng dengan rezim Jokowi, bersantap bersama dengan penuh damai. Saat itu lonceng kematian daya kritis mahasiswa terdengar makin nyata.

Bandingkan dengan sikap seorang anak muda kepada Umar bin Khaththab usai dibay’at menjadi khalifah, ia meminta agar rakyat tidak segan-segan meluruskannya bila keliru. Umar bisa jadi khawatir orang akan takut mengoreksinya karena karakternya yang keras.

Tapi seorang anak muda bersuara lantang, “Wahai Umar jika engkau menyimpang dari kebenaran, maka pedangkulah yang akan meluruskannya!”

Apa yang dilakukan adik saya ini patut dibela dan dibanggakan. Ia membuktikan tidak semua mahasiswa mati suri, tenggelam dalam bangku perkuliahan mengejar prestasi dan prestise. Masih ada mahasiswa yang nalar dan nuraninya kritis dan tulus, berasaskan akidah Islam. Ia berani angkat suara menentang sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip hidupnya sebagai mahasiswa dan sebagai muslim.

Heran jika kemudian orang ramai-ramai membully. Para pembully ini sadar atau tidak sadar sudah menjadi bagian konspirator kejahatan terhadap rakyat, negeri dan agama (Islam). Para pembully ini lebih senang jika mahasiswa kembali mati suri, atau lebur dalam hiruk pikuk dunia hedonisme nan liberal.

Bila para pembully itu muslim, mereka sudah mengkhianati prinsip hidup sebagai muslim, dimana pilar hidup seorang muslim semestinya adalah halal dan haram, bukan demokrasi. Apalagi menghamba pada sosok pimpinan yang tak pernah berpihak pada Islam maupun rakyat banyak.

Adik saya, Yunas, ini menggebrak kampusnya untuk kemudian diperlakukan dengan tidak adil. Karena salah satu kampus UI sendiri membiarkan Laboratorium Psikologi UI yang dipimpin Hamdi Muluk merekomondasikan Ahok sebagai calon gubernur ketimbang yang lain. Mari kita bertanya, apakah sikap Hamdi Muluk dan Lab Psikologi UI itu mencerminkan UI? Bila kemudian dikatakan itu adalah fakta, bukankah isi seruan adik saya juga fakta?

Demikianlah, kita bisa membaca bahwa setiap rezim selalu menginginkan mahasiswa bungkam dan terlelap dalam tidur panjang. Semua dilakukan secara sistematis, terarah dan licik juga kejam. Hanya sedikit orang yang terbangun, sadar dan ikhlas mencoba menyelamatkan negeri ini. Dan mereka, selalu dalam bahaya.

Manusia semuanya mati kecuali orang-orang yang berilmu,

Orang-orang yang berilmu semuanya binasa kecuali yang beramal.

Orang-orang yang beramal semuanya tenggelam kecuali yang ikhlas

dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar.


 Berikut kami lampirkan salah satu video yang membuat Jakarta lebih panas, kali ini justru seruan dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negri Jakarta Febi Rizki Rinaldi:

 


Banner iklan disini
loading...

Subscribe to receive free email updates: